Tata Cara Shalat

Written By Beni Muhaemin on Monday, May 28, 2012 | 6:00 AM

Pada umumnya, setiap umat pemeluk agama Islam pasti mengetahui tata cara sholat. Sebagai salah satu rukun Islam, sholat merupakan ibadah yang harus dijalankan oleh umat Islam setiap hari dalam 5 waktu. Sholat 5 waktu inilah yang biasa disebut sebagai sholat fardhu, yaitu sholat Shubuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya’. Sholat yang dilaksanakan selain sholat 5 waktu di atas berhukum sunnah.

Khusus pada sholat mayyit atau jenazah, hukumnya adalah fardhu kifayah, yaitu diwajibkan bagi sebagian umat Islam saja. Apabila ada satu saja umat Islam yang telah melakukan sholat jenazah untuk mayyit, maka gugurlah hukum wajib yang melekat pada umat Islam yang lain.

Tata cara sholat wajib lima waktu bisa dipelajari secara lengkap di kitab-kitab Fathul Qarib al Mujib, Buluughul Maraam dan Lu’luu’ wal Marjaan. Kitab Fathul Qarib al Mujib karangan Syekh Syamsyuddin Abu Abdullah merupakan kitab tuntunan seluruh hukum-hukum Islam yang banyak dianut oleh madzhab Imam Syafi’i dengan pengikut terbesar di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Kitab ini banyak menggunakan hadits-hadits shahih Rasulullah Muhammad SAW yang terrangkum dalam kitab Bulughul Maram karangan Ibnu Hajar Al Asqalani dan kitab Lu’lu’ Wal Marjan karangan Muhammad Fu’ad Abdul Baqi.
 

Tata Cara Sholat - Persiapan Sebelum Sholat

Sebelum menjalankan ibadah sholat, ada 3 hal hal penting yang menjadikan sholat fardhu diwajibkan atas seseorang. Yang pertama adalah bahwa karena sholat merupakan rukun Islam ke dua setelah pembacaan syahadat, maka sholat fardhu hanya diwajibkan kepada umat Islam yang berarti telah membaca dua kalimat syahadat. Orang non Islam tidak diwajibkan sholat.
Syarat wajib kedua adalah bahwa umat Islam tersebut telah memasuki masa baligh, yaitu masa dimana umat Islam pernah mengalami mimpi basah (bagi lelaki) dan telah mengeluarkan darah haid (bagi perempuan). Oleh karena itu, sholat fardhu tidak diwajibkan bagi anak-anak yang belum memasuki usia baligh.

Syarat wajib yang ketiga adalah umat Islam baligh tersebut harus memiliki akal, atau tidak dalam keadaan sakit gila, sakit ingatan atau sakit yang menyebabkan dia tidak sadar dan tidak memiliki akal sehat seperti ayan yang sering kambuh dan sejenisnya.

Selain syarat wajib di atas, terdapat syarat syah sholat yaitu hal-hal yang menyebabkan sholat seseorang bisa menjadi syah secara syar’iyyah, yaitu meliputi :
  1. Suci anggota badannya dari hadats kecil dan hadats besar, bagi yang mampu mensucikan diri dari kedua hadats tersebut. Suci dari hadats kecil bisa dilakukan dengan berwudlu. Sedangkan suci dari hadats besar bisa dilakukan dengan mandi jinabat. Bagi umat islam yang tidak mampu mensucikan diri misalnya karena perjalanan di dalam pesawat terbang ketika dalam perjalanan haji, karena sakit dsb, maka sholatnya tetap dianggap syah. Hanya saja, ketika dia telah dalam keadaan mampu mensucikan diri, maka wajib baginya untuk mengulang sholatnya.
  2. Menutup aurat bagi yang mampu menutupnya, baik di tempat sepi maupun di tempat yang gelap sekalipun. Bagi umat Islam yang tidak mampu menutupi auratnya secara sempurna (misal : karena tidak mampu membeli pakaian), maka boleh melakukan sholat fardhu dalam keadaan telanjang sekalipun di tempat yang sangat gelap dan tidak perlu mengulangi sholatnya lagi ketika dia dalam keadaan mampu membeli pakaian suatu saat nanti.
  3. Berdiri di tempat yang suci, termasuk pada saat sujud, duduk dan berdiri lagi. Begitu juga dengan pakaian yang digunakan, juga harus suci dari najis.
  4. Mengetahui dan sadar sepenuhnya bahwa telah memasuki waktu sholat dengan segala usahanya. Misalnya, dengan melihat ke jam tangan bahwa saat itu sudah memasuki waktu sholat ashar, maka dia pun melakukan sholat ashar. Atau dengan melihat posisi matahari yang sudah memasuki waktu maghrib ketika dia akan sholat maghrib.
  5. Menghadap ke kiblat, minimal dadanya bagi yang mampu. Pengertian minimal dadanya memiliki arti bahwa seseorang akan bisa menghadap ke kiblat secara sempurna hanya dengan menghadapkan dadanya kepada kiblat dengan sempurna pula. Secara otomatis kaki dan kepada juga ikut menghadap ke kiblat selama menjalankan sholat.

Tata Cara Sholat Fardhu

Setelah syarat wajib dan syarat syahnya sholat sudah bisa terpenuhi, maka seorang umat Islam diperbolehkan melaksanakan sholat fardhu dengan mengiktui rukun atau tata cara sholat sebagai berikut : 
  1. Membaca niat, yaitu menyengajakan diri untuk melakukan sholat fardhu tertentu sesuai dengan jumlah rakaatnya secara fardhu karena Allah SWT. Contohnya, niat sholat Shubuh sebagai berikut: Ushallii fardhush shubhi rak’ataini mustaqbilal qiblati adaa’an lillaahi ta’aalaa. Artinya: "Aku berniat melakukan sholat fardhu shubuh dua rakaat menghadap qiblat tepat pada waktunya karena Allah SWT".
  2. Berdiri dengan tegak bagi yang mampu, atau berdiri kemudian dilanjutkan dengan duduk iftirash (duduk seperti pada tahiyyat awwal) bagi yang lemah.
  3. Mengucapkan takbiratul ihram bagi yang mampu mengucapkannya dan tidak boleh dibalik. Pengucapan takbiratul ihram yang benar adalah “Allahu Akbar” bukan “ArRahmaanu Akbar” atau “Akbaru Allah”.
  4. Membaca surat Al-Faatihah atau minimal satu ayat dari surat Alfatihah apabila memang tidak hafal. Misalnya hanya dengan membaca “Bismillaahir Rahmaanir Rahiiim” saja sudah cukup apabila dalam keadaan terdesak atau belum hafal membaca surat Al-Fatehah secara lengkap.
  5. Ruku’ bagi yang mampu melakukanya. Gerakan ruku’ yang benar pada posisi berdiri adalah dengan meluruskan posisi tubuh (dada) menghadap ke bawah / lantai, kedua tangan memegang lutut.
  6. Tuma’ninah atau diam sebentar setelah berada dalam posisi ruku’.
  7. Bangkit dari ruku’ dan berdiri tegap lagi atau biasa disebut dengan i’tidal. Dalam tata cara sholat, apabila tidak mampu tegak dengan posisi berdiri, boleh melakukan i’tidal dengan duduk namun tubuh tetap dalam posisi tegak.
  8. Tuma’ninah dalam posisi i’tidal.
  9. Sujud sebanyak dua kali untuk setiap rakaat, setidaknya pada bagian dahi menempel dan ditekan secukupnya pada tempat sujud.
  10. Tuma’ninah dalam posisi sujud.
  11. Duduk diantara dua sujud pada setiap rakaat sholat yang dilakukan dengan cara berdiri atau duduk. 
  12. Tuma’ninah ketika duduk diantara dua sujud.
  13. Duduk terakhir yang dilanjutkan dengan salam.
  14. Bertasyahud atau membaca bacaan tahiyyat sewaktu duduk terakhir.
  15. Membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW sewaktu duduk terakhir, sesudah membaca bacaan tahiyyat.
  16. Mengucapkan salam pertama sambil menoleh ke arah kanan dalam posisi duduk terakhir. 
  17. Mengurutkan rukun dalam tata cara sholat. Setiap umat Islam tidak boleh membuat tata cara sholat sendiri-sendiri di luar tata cara sholat yang telah dituntunkan di atas. Semua harus dijalankan berurutan secara tertib.

Sunnah dalam Tata Cara Sholat

Selain rukun, di dalam tata cara sholat juga diatur tentang sunnah sebelum menjalankan ibadah sholat dan sunnah ketika menjalankan ibadah sholat. Untuk sunnah sebelum sholat antara lain :
1.  Adzan, yang secara harfiah memiliki arti pemberitahuan. Dalam tata cara sholat, adzan merupakan seruan tertentu atau pengumuman bahwa pada saat itu telah memasuki waktunya sholat fardhu tertentu. Bacaan adzan terdiri dari:
  • Allaahu Akbar – Allahu Akbar 2x
  • Asyhadu an laa ilaaha illallaah 2x
  • Asyhadu anna Muhammadan Rasuulullah 2x
  • Hayya ‘alash sholaah 2x
  • Hayya ‘alal falaah 2x
  • Allaahu Akbar – Allaahu Akbar
  • Laa ilaaha illallaah
2.  Iqamah, merupakan dzikir untuk menyerukan agar segera mendirikan sholat fardhu bersama-sama. Setelah iqomah selesai dibaca, imam bisa langsung memimpin sholat berjamaah. Berikut adalah bacaan iqomah dalam tata cara sholat berjamaah :
  • Allaahu Akbar – Allahu Akbar
  • Asyhadu an laa ilaaha illallaah
  • Asyhadu anna Muhammadan Rasuulullah
  • Hayya ‘alash sholaah
  • Hayya ‘alal falaah
  • Qad qaamatish sholaah
  • Qad qaamatish sholaah
  • Allaahu Akbar – Allaahu Akbar
  • Laa ilaaha illallaah
Seruan adzan dan iqomah hanya disunnahkan dalam tata cara sholat fardhu. Sedangkan pada tata cara sholat sunnah, tidak diserukan untuk membaca adzan dan iqomah, namun cukup dengan seruan untuk sholat berjamaah saja misalnya : Ash-shalaatu jaami’ah yang berarti mari kita sholat berjamaah.
Sedangkan, sunnah sholat yang diatur di dalam tata cara sholat antara lain :

1. Membaca tasyahud awal

Tasyahud awal merupakan gerakan duduk ketika di akhir rakaat ke dua dalam sholat fardhu. Dalam tata cara sholat, tasyahud awal diawali dengan membaca bacaan tahiyyat, kemudian membaca shahadat dan membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Setelah tasyahud awal selesai, dilanjutkan dengan gerakan berdiri lagi dan memasuki rakaat ke tiga. Pada sholat shubuh, tidak terdapat tasyahud awal karena hanya berjumlah 2 rakaat saja.

2. Membaca doa qunut

Dalam tata cara sholat fardhu, qunut secara harfiah memiliki arti doa. Sedangkan secara syar’iyyah, qunut memiliki pengertian sebagai bacaan dzikir untuk meminta petunjuk dan hidayah kepada Allah SWT. Bacaan doa qunut dilakukan setelah mengakhiri bacaan i’tidal pada rakaat ke dua pada sholat shubuh. Setelah membaca doa qunut, langsung dilanjutkan dengan gerakan sujud rakaat kedua. Dalam tata cara sholat sunnah, doa qunut biasa dibaca pada sholat witir terakhir yang berjumlah satu rakaat saja.

0 comments:

Post a Comment

Teman